Home » , » Menanti Titah Presiden SBY, Polri di bawah Kemdagri

Menanti Titah Presiden SBY, Polri di bawah Kemdagri


Dulu ketika Polri masih dibawah Mabes TNI, tidak banyak timbul masalah. Tapi begitu Polri keluar dari TNI dan memegang anggaran puluhan triliun rupiah, masalah mulai muncul. Polisi sudah berani menangkap tentara, bahkan menembaknya sampai meninggal seperti kejadian di OKU, Sumatera-Selatan. Latar belakang dipisahkan Polri dari TNI oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000, dimaksudkan agar polisi tidak menjadi militeristik dan bisa lebih manusiawi seperti Polisi di Inggris.


Polisi di Inggris memiliki pekerjaan sampingan, seperti menjadi pastor, pelatih tari tiang, pembawa jenazah, pelatih ski, penjual es krim, dan lainnya. Sehingga mereka tidak diajarkan memeras atau melindungi pengusaha untuk mendapatkan materi. Polisi di Inggris tidak dilengkapi senjata api, hanya bersenjata pentungan, tapi dihormati karena mengayomi rakyat.

Sementara Polri hidupnya bergelimang harta yang di duga dari “setoran” pengusaha dan orang yang berperkara. Rakyat miskin menyaksikan hal ini dengan menelan ludah dan menggit jari. Terakhir Densus 88 diduga melanggar HAM dengan memukul terduga teroris. Bahkan ada yang hanya kebetulan kenal dengan teroris, juga dituduh teroris, dipenjara 1,5 tahun di Jawa-Timur. Akhirnya, orang yang bukan teroris menjadi teroris dan meneror Polisi, karena kekajaman itu tadi.Polisi bukan lagi sebagai pengayom masyarakat, terbukti dengan ditangkapnya nenek-nenek pencuri kakao dikebun milik swasta, pencuri semangka, pencuri sandal, yang sebenarnya dengan kewenagan diskresi, bisa saja dibebaskan.

Polisi juga selalu arogan terhadap masyarakat bawah dan selalu tunduk kepada masyarakat atas (pengusaha dll). Seperti penangkapan pabrik narkoba, menurut cerita seorang perwira Polisi, sebenarnya hanyalah akal-akalan saja. Sebab, sebelumnya mereka sudah tahu keberadaan pabrik narkoba itu sejak lama, makanya setiap penggerebekan pabrik narkoba, gembongnya tidak pernah terungkap, sudah disuruh lari. Akhirnya, perwira yang mengungkap pabrik itu, naik pangkat dan kariernya cemerlang.

Memang posisi Polri yang berada dibawah kekuasaan Presiden membuatnya merasa lebih tinggi dari kementerian.Kasus penyerangan Markas Polres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan oleh prajurit Armed 15/76 Tarik Martapura Kodam II/Sriwijaya adalah contoh yang tak boleh terulang, yang konsekuensinya posisi Polri harus secepatnya direformasi dan dikembalikan ke Kementerian, yakni Polri harus dibawah Kemdagri. Meski kelak, Polri pasti akan “bergerelya” dan melakukan “perlawanan” dengan “cara mereka” agar wacana Polri dibawah Kemdagri ini gagal. Tentu pimpinan Polri, tidak akan tinggal diam. Tapi, kalau Presiden SBY turun tangan, maka semua akan beres dan rakyat akan bertepuk tangan mengelu-elukan Presiden bila memang Polri jadi dibawah Kemdagri. Sebab selama ini rakyat sudah banyak yang jadi korban (lapor kehilangan ayam, malah kehilangan kambing).

Banyak pengamat termasuk Presiden ketiga RI BJ Habibie, mengusulkan reformasi di tubuh Polri ditunjukkan dengan cara menempatkan institusi kepolisian di bawah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Sehingga, sama halnya dengan posisi TNI yang berada di bawah Kementerian Pertahanan. Kebijakan itu harus diambil untuk mengembalikan pemisahan fungsi keamanan dan pertahanan. Dengan berada dibawah kendali Kemendagri Polisi akan lebih fokus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Sejumlah pengamat mengusulkan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera melakukan reformasi Polri dengan menempatkannya di bawah Kemendagri sehingga lebih fokus pada tugasnya menjaga Kamtibmas.Seperti Rizal Ramli (Mantan Menko Ekuin era Gus Dur) juga menyoroti beberapa kelamahan di tubuh Polri yakni sistem rekruitmen dan promosi anggota polisi yang kurang profesional. “Sudah menjadi rahasia umum, untuk menjadi taruna Polri harus membayar sejumlah uang. Ini akan merusakkan sistem,” katanya. Memang benar apa yang dikatakan Rizal, seorangperwira Polri di Batam, misalnya, bisa pindah ke Polda Metro Jaya, hanya gara-gara ditelepon Wakapolri, dan karena itu belum ada jabatan, alias Pamen Polda.

Di banyak negara terutama di Amerika Serikat, kepolisian berada di bawah naungan Menteri Dalam Negeri. Posisi Polri di daerah pun nantinya juga di bawah kepala daerah.Karena posisi Polri berada di bawah naungan kepala daerah (pemerintah daerah), maka menurut pengamat, keberadaan Satpol PP bisa diintegrasikan dengan Polri, bahkan mungkin juga bisa dihapus.
Karena keberadaannya di bawah Kemendagri, maka Polri juga harus benar-benar berubah menjadi institusi sipil (jaman dulu Polri adalah Pegawai Negeri Sementara) dan segala pendekatan yang diberlakukan pada masyarakat juga pendekatan persuasif, bukan represif seperti yang sering dipertotonkan selama ini.


Sebuah situs Kemdagri menyatakan bahwa wacana agar Polri berada di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dinilai sangat tepat untuk meningkatkan peran institusi hukum itu secara profesional. Penempatan Polri di bawah Depdagri, sifatnya hanya koordinasi, bukan untuk digabungkan dengan departemen tersebut, sehingga ada yang membawahi institusi kepolisian dalam menjalankan tugas keamanan.

Dalam menjalankan tugas-tugas keamanan di negeri ini, Polri juga perlu mengadakan koordinasi dengan salah satu departemen yang dianggap sangat strategis, dan yang dinilai paling cocok adalah Kemendagri.Hanya Kemendagri satu-satunya departemen yang dinilai sangat tepat sebagai tempat koordinasi Polri.Sejak berpisahnya Polri di bawah naungan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) pada 2000, institusi hukum itu harus mengubah pola kerja dan tidak perlu lagi bersikap keras dalam menghadapi masyarakat.

Pendekatan yang paling tepat dalam menghadapi massa adalah dengan cara persuasif, dan tidak perlu main kekerasan. Sebab yang akan mengalami kerugian adalah masyarakat itu sendiri. Apalagi, tugas dan fungsi pokok Polri adalah melindungi dan mengayomi rakyat yang memerlukan bantuan. Polri juga harus bersikap santun kepada masyarakat dan jangan arogan. Jika Polri masih menggunakan paradigma yang lama dalam memberikan pengamanan kepada rakyat, maka tugas-tugas yang diemban selama ini untuk menciptakan kamtibmas akan sulit tercapai.

Sebenarnya wacana Polri dibawah Kemdagri sudah lama digulirkan, namun diduga karena mendapat “perlawanan” dari Polri, wacana ini hilang ditelan bumi. Hanya ada satu jalan yakni Keputusan Presiden SBY untuk menyerahkan Polri dibawah Kemdagri. Ini yang sekarang ditunggu-tunggu rakyat . Berani tidak?

Sbr : Pendawa Satria 

Thanks for reading & sharing NIRMILITER

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Posting Komentar

Pencarian

Popular Posts